Laman

c

Jumat, 27 Februari 2009

Mencari Kebahagiaan Dalam Diri

Dalam dagelan yang populer di Persia, dikisahkan bahwa suatu ketika Nasrudin Hoja tampak sibuk sekali mencari-cari sesuatu di depan rumahnya. Hal itu membuat tetangganya penasaran dan menghampirinya.

"Nasrudin Hoja, apa yang sedang kau cari?"

"Aku lagi nyari jarum, tadi jatuh"

"Dimana jatuhnya?"

"Di kamarku"

"Kenapa kau cari dihalaman?"

"Kamarku gelap, disini terang"

Hahaha. Lucu? Mungkin enggak, karena emang bukan cerita lucunya yang menjadi point, melainkan spirit dan pesan moral bahwa saat kita kehilangan jarum maka kita bisa mencarinya di tempat lain. Bukan jarumnya yang kita cari, melainkan suasana hati karena di tempat jatuhnya jarum demikian gelap sehingga hati pun ikut gelap dan oleh karenanya kita butuh suasana hati yang bercahaya sehingga mencari suasana itu diluar. Suasana hati yang bercahaya itulah kebahagiaan. Jika yang hilang adalah jarum maka itu adalah dagelan Persia, namun bila yang hilang adalah kebahagiaan, maka itu bukan lagi dagelan, melainkan musibah. Orang bisa saja kehilangan kebahagiaan di suatu tempat dan mendapatkan kebahagiaan di tempat lain.

Happiness cannot be pursued; it must ensue, and it only does so as the unintended side effect. Kebahagiaan tidak bisa dikejar tetapi hanyalah dampak yang sifatnya lebih sebagai akibat dari mengejar sesuatu. Dalam proses mengejar kebahagiaan itu, adakalanya kita mengalami banyak peristiwa baik itu senang, nikmat, gembira ria maupun sengsara. Dan biasanya kita akan membandingkannya dalam sebuah timbangan, lebih banyak yang mana antara kenikmatan atau kesusahan? Jika nikmat > susah, kita akan merasa lebih banyak bahagia. Jika nikmat<>

Kebahagiaan dan kesusahan menjadi sebuah pasangan yang tak terpisahkan sebagaimana oposisi biner lainnya. Dalam kesusahan selalu ada kebahagiaan dan sebaliknya dalam kebahagiaan selalu ada kesusahan. Mustahil ada bahagia thok atau susah thok. Nah, lantas bagaimana mencari kebahagiaan itu dan apa urgensinya? Demikian pentingnya kebahagiaan itu maka kita pun disamping berusaha, berikhtiar untuk mencapainya, kita pun juga tiap hari berdoa yang dikenal sebagai doa sapu jagat, robbanaa aatina fiddun yaa hasanah, wafil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannar, Ya Allah berikan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan hindarkanlah daku dari api neraka. Lantas bagaimana formulasinya? Menurutku, mencapai kebahagiaan sebenarnya tidak terlampau sulit kalau kita bisa mendefinisikan kebahagiaan itu sendiri dan mengcreate dan merekonstruksi mindset kita sehingga senantiasa mendukung untuk senantiasa bahagia. Kebahagiaan itu sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan paradigma kita sendiri.

Baiklah, kita coba turunkan ke level operasional untuk merekonstruksi mindset tersebut. Dalam hidup kita, terkadang ada beberapa hal yang membuat kita berkurang kebahagiaannya. Bukan karena tersedot oleh Dementor seperti pada novelnya Harry Potter, melainkan karena masih adanya belenggu-belenggu hati kita yang membatasi mindset kita sehingga justru berdampak mengurangi kebahagiaan kita sendiri. Inginnya sih menuju ke tahap bahagia, namun alih-alih menemukan kebahagiaan itu, justru kesusahanlah yang didapat. Maka kita perlu mengedukasi mindset dan believe system kita.

Salah satu believe yang perlu kita edukasi misalnya, selama ini kita tanpa sadar menyakini adanya bahwa kita tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang kita anggap bernilai. Bisa aja kita sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan menurut orang lain, tapi kita selalu merasa masih ada hal yang kurang. Kita merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil yang lebih bagus dan tidak cuman satu, dan sebagainya. Pikiran kita lantas dipenuhi oleh benda-benda yang kita anggap dapat membahagiakan kita. Padahal, pada titik ini sebenarnya kita telah mendegradasi kebahagiaan kita sendiri karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak kita miliki, dan bukannya pada apa yang dimiliki sekarang. Kita selama ini yakin akan bahagia kalau semua keinginan kita terpenuhi. Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut. Belum lagi hal itu akan membuat jantung makin terpacu, menimbulkan hipertensi, kolesterol dan akhibatnya bisa stroke atau serangan jantung. Alih-alih ingin bahagia malah masuk rumah sakit atau bahkan meninggal Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat yan tak identik dengan kebahagiaan.

Ada lagi believe yang perlu kita edukasi, misalnya kita percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila kita berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar kita. Lantas kita merasa tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan yang tidak memperlakukan kita dengan baik. Maka kita pun berusaha agar orang berubah untuk mendukung perspektif kebahagiaan kita. Nah, pada level ini sebenarnya kita telah menggadaikan kebahagiaan kita sendiri. Kita perlu sadar sesadarnya bahwa amat sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti kita harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan kita disitu. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita membuat kita tak bahagia. Kalau kita tak dapat mengubah mereka, yang perlu kita ubah adalah diri kita sendiri, paradigma dan mindset kita.

Ada lagi believe lainnya, yakni hobi kita untuk membuat pembanding atau benchmarking, secara tak sadar kita biasa cenderung membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Saya pernah mengalami hal ini dalam proses mencari kerja. Mungkin tak banyak yang pernah mengalami perjalanan status menjadi pegawai negeri di dua instansi yang berbeda, lalu pindah2 sampai 4 bank bumn. Kenapa saya tempuh? Karena kebiasaan mencari bencharking tersebut, merasa penghasilan kurang, karir path gak jelas, kerjaan gak cocok dan lainnya sehingga pindah2 kerja. Akhirnya saya sadari bahwa ini hanya membuang-buang waktu untuk hal yang tak terlalu penting dalam diri saat kita bisa merekonstruksi mindset kita. Saya yakin banyak pengalaman kita tentang hal ini.

Masih ada lagi believe system kita lainnya yang perlu kita edukasi, salah satunya adalah selama ini kita cenderung memaksakan diri untuk terlalu berhemat ria demi membeli kebahagiaan di depan, karena yakin bahwa kebahagiaan itu ada di masa depan. Makanya kita rela bersusah-susah ria, hidup cenderung menderita, memaksakan diri membuka account tabungan, deposito, asuransi dan lainnya demi membeli kebahagiaan di depan Kita terlalu terobsesi pepatah "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Lalu kapan bahagia itu didapat? "Nanti, kalau sudah jadi manajer," begitu berdalih Anda. Persoalannya, saat menjadi manajer, ternyata justru makin sibuk dan waktu menjadi habis karenanya menjadi mahal harga waktu. Lalu bilang, “ntar bahagia kalo udah jadi direktur sehingga bisa beli waktu”. Eh, setelah jadi direktur, boro-boro bahagia, malah dipenuhi dengan berbagai persoalan yang complicated dan akhirnya mengurangi kebahagiaannya. Mungkin sempat bahagia juga sebentar di awal-awal menjadi direktur, namun setelah itu kesusahan demi kesusahan datang silih berganti. "Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur utama atau dirjen, gubernur, menteri, bahkan presiden”. Wah, kalau begitu kita harus menambah napas kita lebih panjang karena makin banyak antrian dan makin panjang alur untuk mencapai kebahagiaan itu. Daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang sesuai apa yang kita inginkan. Namun, kita tak juga bahagia, lebih tepatnya belum tentu bahagia. Kalau demikian pepatah itu perlu diganti, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan”. Lalu dimana salahnya sih? Salahnya karena kita menempatkan kebahagiaan di tempat yang jauh dan sulit terjangkau. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat kita nikmati di sini, sekarang juga!

Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada ikan yang lebih senior. "Anda lebih berpengalaman dari saya. Di manakah saya dapat menemukan samudra kebahagiaan? Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!" "Samudra adalah tempat engkau berenang sekarang," ujar ikan senior. "Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah samudra," sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain. Lucu? Mungkin kita bisa mempertawakan ikan itu. Padahal mungkin saja suatu ketika kita akan mentertawakan kita sendiri yang selama ini salah dalam memaknai kebahagiaan sehingga upaya mencari kebahagiaan justru menjauhkan kebahagiaan itu dari kita. Padahal sesungguhnya, kebahagiaan itu tak perlu kita cari. Kita hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apapun yang sedang kita lakukan. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan itu sekarang, yakni dengan merekonstruksi mindset kita sendiri mengenai makna kebahagiaan itu sendiri. Banyak orang yang sukar untuk mendapatkan kebahagiaan karena mereka berusaha untuk mencari kebahagiaan external, yaitu kebahagiaan yang dirasakan apabila mereka berhasil mendapatkan atau meraih sesuatu yang di luar dirinya. Sesuatu tersebut bisa berupa harta benda duniawi, ketenaran, nama baik, harga diri, kekuasaan, dan lain sebagainya. Apabila seseorang mendefinisikan kebahagiaan seperti ini, maka kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara. Biasanya kebahagiaan tersebut berlangsung dalam tempo yang singkat. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan dapat digali dari dalam diri tiap-tiap pribadi atau disebut juga dengan kebahagiaan internal. Apabila seseorang telah berhasil menemukan kebahagiaan internalnya, maka orang tersebut akan selalu merasakan bahagia dalam hidupnya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Kebahagiaan internal ini tercapai apabila kita dapat selalu merasakan ketenangan, kedamaian, dan suka cita dalam segala situasi. Orang yang telah menemukan kebahagiaan internal biasanya dapat selalu menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya dengan besar hati.

Ingatlah akan nasehat yang sangat bermakna, dan dari Wabishah bin Ma’bad dia berkata: Aku datang kepada Rasulullah, dan beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?”, Aku berkata,”Ya, benar wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Bertanyalah kepada hatimu. Kebajikan adalah apa yang menjadikan tenang jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang-orang terus membenarkanmu” . Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Musnad Imam Ad-Darimi.

Lantas gimana trik untuk menemukan kebahagiaan? Tidak ada rumusan yang pasti. Ini hanyalah salah satu trik aja. Pertama, yang dapat kita lakukan dalam usaha menemukan kebahagiaan internal adalah dengan menyadari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Bawalah diri kita dan pikiran kita untuk menyadari apa yang terjadi saat ini (present time), jangan membiarkan diri kita selalu hanyut ke dalam kesenangan maupun kesedihan masa lalu, karena semuanya itu telah berlalu dari hidup kita. Satu detik yang baru saja berlalu telah menjadi kenangan dan menjadi masa lalu (past time). Jangan pula kita selalu membiarkan diri kita terhanyut ke dalam angan-angan yang jauh di luar realitas kita (future time). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bermimpi atau berangan-angan untuk masa depan kita. Jika kita mempunyai suatu rencana untuk masa depan, bayangkan dalam beberapa saat, kemudian tulislah tujuan kita tersebut dan tulis juga langkah-langkah yang harus kita tempuh sebagai usaha kita meraih tujuan yang selalu kita angan-angankan. Kemudian lakukan tindakan/action sesuai dengan apa yang telah kita tulis tersebut, sehingga kita tidak selalu terhanyut ke dalam angan-angan kita dan tidak dapat menemukan angan-angan tersebut di dalam realitas hidup kita sekarang. Setelah kita menjalankan langkah demi langkah yang telah ditulis, dan sebagian dari langkah yang telah kita tuliskan tersebut sudah tercapai, barulah kita bayangkan kembali cita-cita kita ke arah yang lebih tinggi. Dengan membayangkan cita-cita yang kita tuju sambil membuat blue print dan kemudian kita jalankan, maka cita-cita yang kita tuju akan lebih mudah untuk dicapai dan kita tidak akan merasa kecewa setelah kita selesai berangan-angan dan kembali ke realitas hidup, karena sebagian dari angan-angan kita sudah mulai tercapai. Namun apabila kita tidak membuat perencanaan dalam mencapai tujuan hidup kita seperti yang selalu kita angan-angankan, maka kita akan selalu terbawa hanyut ke dalam angan-angan kita, karena apa yang kita rasakan dalam realitas hidup tidak seindah apa yang kita bayangkan dalam kacamata imajinasi kita.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan agar kita dapat menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita adalah dengan selalu mengucap syukur atas segala kejadian yang menimpa diri kita. Jangan selalu membanding-bandingk an kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang menurut kita lebih baik dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah orang yang kita anggap lebih “baik” itu benar-benar merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Bisa saja ia sedang berada dalam kecemasan karena memiliki utang yang sangat besar dan sedang bersiap-siap untuk melarikan diri, atau bisa saja orang tersebut tidak dapat merasakan kebahagiaan meskipun orang tersebut kaya raya, karena hubungan antaranggota keluarganya sudah tidak harmonis lagi. Jika kita baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidup kita, dan merasa kita adalah orang yang paling tidak beruntung dalam hidup ini, dan kita tidak tahu apa yang harus kita syukuri, syukurilah udara yang masih dapat kita hirup dan embuskan, syukurilah bahwa kita masih memiliki hidup ini, yang artinya kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup kita. Orang yang paling gagal dalam hidupnya adalah orang yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan dirinya, alias orang tersebut sudah meninggal dalam keadaan bangkrut. Jadi selama kita masih hidup selalu syukuri apa yang terjadi di dalam diri kita. Hal yang sangat sederhana, bukan? Namun seringkali orang lupa akan hal ini.

Bahagia adalah suatu perasaan, sesuatu yang sifatnya emosional. Perasaan bahagia ini timbul dari dalam diri kita karena kita secara fisik dengan menggunakan kelima indra kita telah mengalami suatu kejadian yang menurut diri kita sendiri menyenangkan hati dan pikiran kita. Kelima indra kita tersebut berpusat pada otak kita, otak kitalah yang mengirimkan rasa sakit yang diterima dari tangan kita yang terluka, otak kita jugalah yang mengirimkan bau wangi-wangian kepada kita. Sehingga perasaan bahagia tersebut dapat kita timbulkan apabila kita mampu mengendalikan pikiran kita. Dengan mengendalikan mindset, maka seluruh indra yang kita miliki juga dapat kita kendalikan. Apabila seluruh pikiran dan indra kita bisa kita kendalikan, maka hasrat dan keinginan kita juga dapat kita kendalikan, sehingga rasa bahagia dapat kita kendalikan. Di samping itu kita juga harus menyadari bahwa hidup ini adalah suatu sirkulasi. Ada saat kita merasa sedih karena kehilangan seseorang yang paling kita cintai, namun dengan berlalunya waktu, perasaan sedih tersebut akan hilang, dan ada pula saatnya kita merasa senang karena menemukan seseorang yang mencintai diri kita. Dengan demikian perlu kita sadari bahwa semua hal sedih akan berlalu, dan begitu pula semua hal yang menyenangkan juga akan berlalu. Sehingga jika pada saat ini kita merasa senang, sadarilah bahwa kesenangan itu baru saja berlalu, dan jika pada saat ini kita merasa sedih karena suatu kejadian menimpa kita, sadari juga bahwa kejadian tersebut telah berlalu. Selama ini kita selalu menginginkan masalah-masalah yang membuat kita stress dan sedih untuk berlalu dari hadapan kita, namun kita jarang menyadari bahwa segala hal dan kejadian yang membuat kita senang juga sudah dan akan berlalu. Jadi senang dan sedih pasti akan berlalu. Kalau kita pernah mendengar ada sebuah judul lagu yang berbunyi Badai pasti berlalu, seharusnya ditambahkan menjadi “Badai pasti berlalu, Angin sejuk pun pasti berlalu”.

Lalu sikap apa yang perlu dibentuk? Pertama, sabar adalah sikap yang perlu kita bina, apabila kita ingin mencoba menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita. Kita harus sabar apabila ada tujuan dalam hidup kita yang belum tercapai, kita juga harus sabar apabila masalah menerjang kita, kita harus sabar dalam usaha kita untuk mengendalikan pikiran kita. Semua yang kita kerjakan dan usahakan membutuhkan waktu untuk diproses, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran. Kedua, besar hati merupakan sikap kedua yang harus turut dibentuk dalam diri kita. Kita harus bisa dengan besar hati menerima semua kejadian buruk yang menimpa kita, kita juga harus berbesar hati dalam menerima kenyataan pahit yang menjadikan keadaan kita jauh berbeda dari yang kita impikan. Dengan memiliki sikap yang satu ini dalam pribadi kita masing-masing, maka kita telah memiliki 50% power untuk menggali kebahagiaan. Sikap berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah tabah. Kita harus selalu tabah dalam melewati masa-masa sulit yang kita alami. Selanjutnya sikap yang juga berperan dalam membentuk potensi kita untuk menemukan kebahagiaan adalah tidak mudah putus asa. Apabila kita mengalami suatu kegagalan yang membuat kita sedih, maka kita harus yakini bahwa kegagalan itu telah berlalu, dan perasaan gagal tersebut jangan kita pendam terus.

Akhirnya, carilah, galilah dan temukanlah kebahagiaan dalam diri kita sendiri. Jangan selalu mencari kebahagiaan eksternal, karena kebahagiaan eksternal tersebut sifatnya sementara. Semoga kita dapat menemukan kebahagiaan sejati dalam diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

c

artikel terbaru