Laman

c

Tampilkan postingan dengan label bocah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bocah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2019

The power of ngudang



Oleh: Muh. Nursalim

 “Dik Sari pinter, jadi dokter, alim shalihah, bakti Umi Abah”. Timang seorang ibu kepada bayi yang ada dalam gendongannya. Itu terjadi duapuluh dua tahun silam. Hari ini penulis menyaksikan, bayi itu telah menjadi seorang dokter. Sesuai timangan sang bunda.

 Menimang bayi. Orang Jawa bilang, ngudang bayi. Rangkaian puja-puji kepada anak yang masih dalam buaian. Ia belum paham apa yang diucapkan sang bunda. Tetapi itu  semacam do’a yang luar biasa. Karena itu, pantangan menimang anak dengan kalimat yang buruk. Sebab malaikat akan mengamini ucapan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi saw.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ  رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- َقَالَ « لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

Dari Umi Salamah berkata, Rasulullah saw bersabda, “ Janganlah kalian berdo’a untuk dirimu kecuali yang baik sebab malaikat mengamini apa yang kau ucapkan”. (HR. Muslim)

 Ketika ada orang marah-marah dan berujar yang tidak baik, kita sering bilang, “awas ada setan lewat !”. Ternyata bukan setan yang lewat, tetapi para malaikat yang datang untuk mengamini.

 Imam Sudaisy. Salah satu imam masjidl haram yang terkenal dikisahkan begini. Saat masih kecil dia kurang nyaman bila ada tamu berlama-lama di dalam rumah. Menganggu kenyamanannya saat bermain.

 Suatu hari ada tamu yang tidak segera meninggalkan rumah anak itu. Lama sekali, bercengkerama dengan orang tuanya. Sudaisy kecil jadi jengah. Marah tetapi tidak berani mengusir sang tamu. Ketika hidangan dikeluarkan untuk disantap si tamu. Ia keluar rumah, mencari pasir. Tanpa komentar ia taburkan pasir itu ke makanan yang dihidangkan kepada tamu. Ibunya marah luar biasa seraya menghardiknya.

 “Sudaiiisy, pergi sana. Menjadi imam masjidil haram !”
 Ternyata ada malaikat lewat mengamini hardikan sang ibu. Dan kita saksikan hari ini. Sudaisy menjadi imam masjid yang mulia tersebut. Bahkan menjadi imam yang paling ditunggu. Karena suaranya yang elok dan bacaan yang menyentuh.

 Penulis pernah menyaksikan, ketika sedang sholat isya di pelataran masjid haram. Seorang ibu nangis terpingkal-pingkal. Ketika sudah selesai dan santai saya coba bertanya.

“Ibu, kok nangisnya sampai segitunya. Emang paham ya ayat yang dibaca imam tadi?”. Tanyaku ingin tahu.

“Tidak mas, suaranya itu lho. Ya Allaaah, bikin hatiku tersayat-sayat”. Jawabnya

 Ternyata imam yang bikin menangis itu Syeikh  Sudaisy. Yang dihardik ibunya ketika kecil, saat berulah di depan tamu. Seandainya sang ibu menghardik dengan kata-kata kotor, mungkin ceritanya akan berbeda.

 Bayangkan, ucapan ibu yang lagi murkapun diamini malaikat. Apalagi ibu-ibu yang dalam ketenangan dan kenyamanan. Bila ia menimang anaknya dengan  ucapan yang buruk tentu berbahaya bagi buah hatinya.

 Ibu yang kurang ilmu terkadang memperlakukan anaknya tanpa kontrol. Dikiranya tidak berpengaruh apa-apa. Ia ucapkan kata-kata yang tidak senonoh dan kotor. Walaupun sekedar untuk bercanda agar orang lain ketawa. Ada seorang bayi ditimang begini.

“Susi elek, koyo telek gawene mewak-mewek (Susi jelek kayak tai kerjanya cuma menangis)”.

 Buruk sekali timangan semacam itu. Dengar saja menjijikkan. Ucapan jelek itu hanya boleh bagi orang yang merasa terzalimi. Sebagaimana firman Allah.

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا [النساء/148]

Allah tidak suka perkataan buruk kepada orang lain, kecauali bagi orang yang terzalimi. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. (An Nisa: 148)

 Dizalimi itu sakit. Efeknya bisa panjang dan sukar dihilangkan. Jika uang anda hilang, mungkin hatimu akan menyesal. Tetapi bila anda ditipu teman yang menyebabkan uangmu lenyap. Sakitnya bukan kepalang.

Kalah dalam sepakbola itu menyedihkan. Tetapi sepakbola kalah karena dizalimi wasit. Bukan hanya sumpah serapah dari penonton yang keluar, tetapi efeknya bisa tawur masal. Penonton turun ke lapangan. Mengejar wasit yang zalim.

Saking sakitnya orang yang terzalimi. Allah memberi kanalisasi. Boleh mengutuk pihak yang zalim. Rasulullah saw pun menjanjikan terkabulnya kutukan tersebut. Sebagaimana sabdanya:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ ، فَقَالَ « اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Dari Ibnu Abas ra, bahwa Nabi saw mengutus Muaz ke Yaman seraya berpesan, “Hati-hati dengan do’anya orang yang terzalimi, sebab  doanya  tidak ada penghalang” (HR. Bukhari)

 Menimang bayi mungkin tidak lagi menjadi tradisi. Ibu-ibu telah disibukkan dengan gadgednya. Pagi, siang, sore, malam dan kapan saja tidak bisa lepas dengan benda tersebut. Bahkan momong bayi hanya menjadi sampingan di tengah-tengah sibuknya bermain medsos.

 Yang penting bayi tidak rewel. Apapun dilakukan untuk mengalihkan perhatian si buah hati. Agar tidak mengganggu, bahkan banyak ibu yang membelikan si bayi gadged sendiri. Biarkan dia bermain benda elektronik tersebut. Sebab ibunya juga lagi asyik bersosialita.

 Sekarang, kalau masih terdengar timangan bayi, hanya pendek-pendek. Dan tidak cerdas. Tidak merubah apa-apa dan tidak berpengaruh ke siapa-siapa.

 “Duuh cantiknya anak mama”

 Cantik itu taken for granted. Terima jadi dari sang pencipta. Di timang cantik seribu kali dalam sehari, kalau sejak lahir tidak cantik ya tidak akan merubah apa-apa. Itu hanya pelipur lara.

 Menimang itu mendoakan. Maka doa yang visioner, menggugah semangat dan berbobot itu penting. Syukur bisa puitis dan argumentatif. Misalnya, dik Rudi pintar, hafidz qur’an sekolahnya di Jerman buat pesawat terbang.  Itu jika bayi laki-laki. Untuk bayi perempuan, dik Rini shalihah, rajin sekolah, suka ibadah bakti sama ibu dan ayah.

 Sebentar lagi lebaran. Boleh jadi ketemu handai tolan yang suka menimang. Pintar merangkai kata-kata hikmah yang penuh do’a. Kalau anda masih punya bayi. Biarkan dia menimang-nimangnya. Boleh jadi bersama kudangannya, malaikat datang dan mengamini. Atau nanti pas bulan Agustus. Jika anda menjadi panitia HUT RI di kampung. Mengusulkan  lomba ngudang bayi. Mungkin seru. 

Wallahu’alam

Rabu, 14 Oktober 2015

Memberi Nama Terbaik, Indah, dan Berkah untuk Anak (2)

Identitas paling utama setiap orang adalah nama. Setiap makhluk di bumi ini, baik yang hidup maupun yang mati, memiliki nama sebagai identitasnya. Bayi diberi nama yang baik, di samping agar ia memiliki identitas, juga agar memiliki jati diri yang kuat. Dengan memiliki sebuah nama sebagai identitasnya, seorang anak akan mudah dikenali. Nama akan menjadi identitas abadi sampai Hari Kiamat. Di akhirat nanti, manusia akan dipanggil berdasarkan namanya. Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya kamu akan dipanggil pada Hari Kiamat nanti dengan nama-namamu dan juga nama bapak-bapakmu, maka perindahlah nama-namamu.” (HR. Imam Abu Daud)

Pemberian nama disunahkan pada hari ke-7, yaitu ketika diadakan akikah. Namun, sebaiknya nama sudah dipersiapkan sejak bayi masih berada dalam kandungan. Nama dapat dipilih melalui musyawarah antara suami dan istri untuk menentukan nama yang baik, bermakna, dan sesuai keinginan dua belah pihak. Ketika pada hari akikah, nama tersebut bisa diumumkan kepada para tamu agar mereka dapat mengenal nama bayi Anda.

Dalam menentukan nama bayi, ada lima kaidah yang dapat dipergunakan agar pemilihan nama tersebut tidak melenceng dari aturan syariat Islam.

1. Nama-nama yang bermakna penghambaan kepada Allah SWT digabung dengan nama-nama-Nya yang indah (asmaul husna), misalnya Abdul Aziz dan Abdul Ghoniy.
2. Nama dapat dinisbatkan kepada para nabi. Para ulama sepakat tentang kebolehan memberi nama anak dengan nama para nabi, seperti Muhammad, Yusuf, dan Nuh.
3. Nama dapat diambil dari nama para sahabat, tabi’in, atau orang shaleh.
4. Nama yang mencerminkan doa, harapan, simbol kemuliaan, atau dorongan untuk berbuat kebaikan. Nama-nama seperti ini terdapat di dalam banyak hadits Rasulullah atau ayat-ayat Al-Qur`an, misalnya Raihan (wewangian surga), Firdaus (surga tertinggi), Ahsan (yang lebih baik), Khair (yang paling baik), atau Qurrata A’Yun (penyejuk mata).
5. Nama tidak harus diambil dari bahasa tertentu. Meskipun bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Qur`an, nama yang baik tidak harus berasal dari bahasa Arab. Yang paling penting adalah nama tersebut bermakna baik. Anda bisa mencari nama dari bahasa lain selama bermakna baik dan mengandung kemaslahatan.

Selengkapnya: http://qultummedia.com/Kabar-Qultum/memberi-nama-terbaik-indah-dan-berkah-untuk-anak.html

Kamis, 08 Oktober 2015

ASI Sebagai Jaminan Masa Tua dan Akhirat Kita

Seorang lelaki tua tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu dan cucunya yang baru berusia 4 tahun. Tangan lelaki tua itu gemetaran, matanya kabur dan jalannya tertatih-tatih.

Keluarga ini selalu makan bersama di meja, namun tangan orang tua mereka yang gemetaran membuat makan menjadi pekerjaan yang sulit baginya. Pastei (pie) menggelinding dari sendoknya jatuh ke lantai. Bila ia meraih gelas, susu tumpah membasahi taplak meja. Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kotoran yang di akibatkannya.

“kita harus berbuat sesuatu terhadap ayah,” kata si anak. “Aku sudah tidak sabar lagi melihat tumpahan susu, berisiknya kunyahan dan makanan yang jatuh ke lantai.”

Kemudian suami isteri itu menyediakan meja kecil di pojok rumah. Di meja ini ayah mereka makan seorang diri. Karena sang ayah juga memecahkan satu atau dua piring, maka makanan di meja kecil ini disajikan dalam mangkuk terbuat dari kayu.

Bila keluarga ini melihat sekilas ke arah lelaki tua itu, terkadang tampak matanya berkaca-kaca selagi ia duduk sendiri. Apabila sang kakek menjatuhkan garpu atau menumpahkan makanan, mereka menegurnya dengan keras. Sang cucu yang berumur 4 tahun diam-diam menyaksikan semua kejadian itu.

Suatu petang, sebelum makan malam, sang ayah menyaksikan anaknya bermain-main dengan potongan-potongan kayu di lantai. Dengan manis ia bertanya,”Lagi bikin apa, Nak?”

Sang anak dengan manja menjawab, “ Oh...., aku sedang membuat mangkuk kecil untuk makan Papa dan Mama bila aku sudah besar nanti.”

Anak umur 4 tahun itu tersenyum manis lalu kembali bekerja.
Kata-kata si anak menampar kedua orang tuanya sehingga mereka tak kuasa berkata-kata. Air mata mulai mengalir di pipi mereka. Meskipun keduanya tidak berbicara, tapi mereka tahu apa yang harus segera dilakukan.

Malam itu juga, sang suami memegang dengan lembut tangan ayahnya lalu membimbingnya ke meja keluarga. Sejak hari itu, lelaki tua makan lagi bersama keluarganya. Dan suami istri itu tidak pernah lagi memperdulikan garpu yang jatuh, susu yang tumpah dan taplak meja yang kotor.

** Cerita di atas mengingatkan saya pada sebuah peristiwa penting dalam hidup. Saat itu saya baru beberapa bulan merintis dakwah ASI dengan semangat yang dimiliki hingga sekarang Alhamdulillah terus bertambah dan semoga tetap istiqomah.

Saat itu saya menemui seorang ustadzah dalam rangka meminta nasehat dan berdiskusi mengenai hukum-hukum berkaitan dengan "Donor ASI". Kebetulan suaminya adalah Pakar di Bidang Hukum Syariah-MUI.

Mendengar langkah saya saat ini, beliau memberikan semangat agar saya tidak boleh terpikir untuk berhenti. Dengan nada suara tinggi dan gayanya yang khas sebagai orang betawi, beliau berkata,

"Hendi.. Allaahu akbar..tahukah betapa mulianya apa yang kamu lakukan ini? Kamu melebihi apa yang sedang saya dan suami lakukan selama ini.."

Lalu saya menjawab dengan lirih sambil istighfar tiada henti,
"Ahh Astaghfirullah al adhimm bu.. Baca Al Qurán aja saya belum lancar, ibadah lainnya masih tertatih-tatih. . Kan ibu tahu sendiri hehe lalu dari sisi mana saya dikatakan melebihi apa yang dilakukan oleh ibu dan ustadz?"

"Yang kamu lakukan ini adalah mempersiapkan sebuah generasi.. Inilah titik awal pembinaan seorang anak manusia.. Kemanapun dan dimanapun kamu berdakwah, ingatlah akan doá ini;

“Rabbi (i)ghfirlii wa li-waalidayya” (Ya Robb-ku, ampunilah aku dan/juga untuk kedua orang tuaku).
“wa (ar)hamhu maa kamaa robbayanii soghiraa” (dan kasihilah mereka semua, sebagaimana mereka telah mengasihi aku ketika kecil)"

''Cukup dengan doá ini sebagai bekalmu berdakwah, bukan ayat-ayat yang lain. Karena saat ini mental umat sungguh di luar batas terhadap orang tuanya..''

''Bagaimana seorang ibu dan ayah dapat mengharapkan bahwa suatu saat nanti..saat ia tua dan tak berdaya..mengharapk an anak-anaknya akan mengasuh dan mencintai dirinya jika mereka tidak memenuhi hak anak kala ia kecil.''

''Perhatikan kalimat doá yang terkahir, wa (ar)hamhu maa kamaa robbayanii soghiraa-dan kasihilah mereka semua, sebagaimana mereka telah mengasihi aku ketika kecil..
Setiap dari kita sebagai orang tua, akan mendapatkan balasan sebagaimana kita memperlakukan anak-anak kita saat mereka masih kecil..''

Saya tertegun..tiada mampu berkata-kata. . Kemudian beliau melanjutkan nasehatnya,

"Dengan mengajarkan bagaimana orangtua berupaya memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, sesungguhnya kamu telah mengajarkan bagaimana membentuk sebuah generasi penuh cinta dan kasih. Inilah yang Rasul shallallaahu alaihi wa sallam kehendaki.. Ibu adalah madrasah utama dan pertama bagi setiap anak manusia.. Bagi mereka yang mendidik anak perempuannya, maka ia telah mendidik seluruh umat manusia karena dari rahimnya akan lahir anak-anak manusia.. Dan barangsiapa yang mendidik dengan baik anak laki-lakinya maka ia telah mendidik seorang manusia..''

''Sedangkan yang kamu lakukan adalah mendidik orang tuanya.. Sebuah langkah awal yang sangat penting.. Mereka telah terbiasa dengan mempercayakan air susu sapi sebagai pengganti air susu ibu yang lebih mulia.. Cairan dari Allah subhana wa taála.."

''Istiqomah dan tawakkal.. Setiap kebaikan akan diiringi keberkahan yang luar biasa bagi dirimu, suamimu, anak-anakmu dan seluruh keluargamu.. ''

Saya hanya tertegun dan terdiam seribu basa.. Nasehat demi nasehat saya terima dan hingga saat ini kalimat-kalimat itulah yang selalu saya utarakan setiap bertemu ayah bunda di ruang praktek atau dimanapun saya berbagi ilmu.

Tak jarang, 2 jam bersama kala melakukan konseling akan dibanjiri oleh air mata dan saya pun ikut menangis dalam hati.

Sungguh luar biasa tekad dan komitmen para ayah bunda yang berupaya memberikan ASI bagi buah hatinya. Proses menyusui ASI secara eksklusif maupun proses relaktasi bukanlah sebuah proses yang mudah..

Masa tua akan menjelang.. Di masa itu, sosok yang paling kita nanti kehadirannya dan kebersamaannya adalah buah hati kita.. Apa yang ayah bunda lakukan saat ini, bukanlah hal yang sia-sia..

SEMANGAT BERJUANG AYAH BUNDA.. Memberikan ASI bagi buah hati dengan penuh cinta.. Memberikan ASI dengan tatapan kasih pada buah hati kita.. Memberikan ASI dengan dialog penuh kelembutan antara kau dan dia.. LOVE YOU ALL..

"Enjoy The Most Precious and Romantic Moments By Giving ASI to Your Baby"

Salam ASI,
dr Henny H. Zainal, CHt
Konselor Laktasi

HZ LACTATION CARE(021-99532800/ CALL ONLY)
Jl. Timbul Raya No. A/6, RT/RW 08/06
Cipedak, Jagakarsa
Jak Sel 12360

Minggu, 27 September 2015

S3 siapa takut?

ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek."

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini...

Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar ... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya."

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.

Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, ITB .
This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif (terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original pos

Jumat, 26 Februari 2010

Masa Depan Anak

Bagi yang punya anak di TK. Ingin tau mau jadi apakah anak anda kelak? Tanpa bayar konsultasi psikolog. Gampang, kumpulkan 30 orang anak TK tersebut, Ibu guru memimpin mereka masuk ruang kelas. Lalu tinggalkanlah mereka . tunggu beberapa saat . Kita lihat apa reaksi mereka .!!!

a.. Jika mereka tetap ngintil mengikuti terus Ibu Gurunya, nempel terus keluar ruangan .. ini cocok di bagian *Legal* (selalu "merapat" kepada Top Management)

b.. Jika mereka kemudian mengambil mainan balok-balok kayu atau lego ..dipasang. lalu diberantakin lagi..pasang lagi..berantakin lagi. Kalo bosen ditinggal . Dia cari mainan yang lain lagi.lalu pasang.berantakin lagi.pasang lagi. naaaahhh ini keknya menjadi Bagian *IT * atau * Engineering* (bongkar pasang . cari kesibukan sendiri - jika bosen lalu ditinggal)

c.. Jika mereka maju ke papan tulis dan menulis-nulis sesuatu disitu, yup.tentu saja Ini bagian *Training and Development* (naluri ngajar bouw)

d.. Bertepuk tangan, menyanyi, berteriak-teriak, menari-nari, ini bagian *Operation* (tukang "heboh" soalnya - demo mulu kerjaannya)

e.. Berjalan keluar . Jajan cimol dan Harum manis didepan sekolah - ini bagian *Procurement* ... (tidak lupa dengan cerewet bertanya. Ini berapa bang..yang itu berapa bang. Yang disitu berapa ?? tapi nggak beli-beli karena uangnya kurang)

f.. Ambil Tas - buka bekal, makan-makan, minum-minum, hepi-hepi... haha hihi... Ini pasti orang-orang *Marketing* nih (marketing gitu loh - everyday is a holiday)

g.. Jika mereka malah berantem sesamanya, cakar-cakaran dsb. Ini pasti cocok di divisi *Business Development* .

h.. Mendorong-dorong meja - mengangkat kursi - merapih-rapihkan kelas - melap meja kursi - nyapu kelas, Ini *General Affair* lah .

i.. Lari keluar kelas - main-main diluar - main ayunan - main prosotan - main jungkat - jungkit . Gak peduli apa yang terjadi di dalam kelas . Ini bagian *Sales* dan *Customer Service* (spesialis "urusan luar" bukan ??? - urusan main)

j.. Menangis keras - memanggil-manggil bu gurunya - mengarang cerita yang termehek-mehek agar dikasihani gurunya - agar bu gurunya memperhatikan dia .. mmm ini bagian *Quality Control* atau *Internal Control* (spesialis komplain dan Tukang ngadu)

k.. Membuka tas - merogoh kantong - membuka dompet barbie/narutonya - menghitung uang recehan - atau bahkan menghitung-hitung jumlah jendela yang ada dikelas - itu pasti akan jadi *Finance dan Accounting* .

l.. Ambil Crayon - coret-coret dinding - mudah saja ini tentu *Graphic Design* dong

m.. Berceloteh - ngobrol - Cerita-cerita sama temannya - ngoceh kesana kemari - ngomong sendiri - berdiri di depan kelas sambil ketawa-ketiwi - Ini bagian *Public Relation*. (spesialis ketawa -ketiwi dan ngomong kanan kiri .)

n.. Tarik kursi - berdiri diatas kursi - melihat keluar jendela - menerawang jauh - pura-pura berfikir .. Naaaahhh ini lah calon *President Direktur* kita . (berpandangan visioner jauh kedepan)

o.. Jika mereka hanya duduk diam .. seperti tidak melakukan apa-apa .naaahhh ini bagian *Personalia* .. (hihihihi - yes, Sitting Idle right ???)

p.. Jika mereka ternyata berdiri di depan pintu - siap siaga selalu memegang handel pintu - buka tutup pintu ... aaaahhhh ini pasti *Bagian Security* atau *Door man*

q.. Ok-Ok bagaimana kalau dia duduk manis sendirian dipojok - membuka buku -membaca dengan tenang - tangan dilipat diatas meja - rapi - dengan harapan Ibu Guru akan memuji dia habis-habisan ..???. mmm maaf tipe ini biasanya tidak diterima di bagian mana pun - orangnya kurang asik soalnya - nggak fun - nggak kompak ..(hihihihihi)

Jumat, 09 Januari 2009

Sebuah Dunia untuk Nathan

oleh RIA JUMRIATI www.riajumriati.multiply.com

Tak terlukiskan kebahagiaan Mazaya saat pertama kali ia tahu ada
kehidupan di dalam rahimnya. Nathan, hadir menebar benih kebahagiaan
dikehidupan Mazaya dan Haykel yang sempat senyap selama empat tahun
lamanya. Proses melahirkan yang harus melalui prosedur vacuum dan rasa
sakit tak terperihkan terbayar sudah saat tangis kecilnya memecah
keheningan malam.

Nathan adalah bayi yang sangat menyenangkan. Tidak pernah rewel bahkan
ia seolah mengerti kelelahan Mazaya dalam mengasuhnya sehingga
tangisnya hampir tak pernah terdengar dimalam hari. Namun ketika bulan merambat hingga menjelang satu tahun usianya. Mazaya baru merasakan ada hal yang tak normal pada diri Nathan. Ia tak bisa focus dan hampir tak ada kontak mata, tak bisa tersenyum bahkan untuk permainan simple seperti "cilukba", tak ada ekspresi hidup diwajah mungilnya. Dan yang membuat hati ibu muda itu bagai direngut dari tempatnya adalah ketika pada suatu hari Nathan membentur-benturkan kepalanya ke dinding hingga memar-memar dibagian keningnya.

Apa yang terlintas dibenak Mazaya saat itu adalah sebuah kengerian dan
ketidak yakinan pada sebuah kata "Autisme". Tanpa berpikir panjang ia
langsung menghubungi Linda sahabatnya yang kebetulan juga memiliki
anak dengan "berkah" Autisme, untuk mencari referensi mengenai dokter
terbaik yang dapat memberikan pertolongan bagi Nathan kecilnya.

"Dari pemeriksaan yang saya lakukan, memang terdapat gejala Autisme
Infantil pada Nathan" Ujar dokter Farras yang membuat Mazaya seolah
disengat listrik ribuan kilowatt.
"Sejak lahir ia baik-baik saja Dok, memang sering diare dan agak
lambat berbicara tapi kenapa tiba-tiba harus terkena Autis ? Bisakah
disembuhkan ?" Tanyanya cemas dengan air mata bersimbah jatuh.

"Tenang Bu" Ujar Dokter Farras menenangkan "Sekarang ini telah banyak
penderita Autis yang bisa disembuhkan dan dapat tumbuh layaknya anak
yang terlahir normal. Tapi tentunya dengan perawatan medis serta
nonmedis yang menyeluruh" Ujarnya

"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Dok" Tanya Mazaya sambil
mendekap tubuh Nathan.

"Hal pertama adalah lakukan diet GFCF."
"Diet GFCF ? Jenis-jenis makanan apa saja Dok ?" "Maksudnya adalah
Gluten Free and Casein Free. Nathan sama sekali dilarang menyantap
makanan yang mengandung terigu, gandum dan susu sapi. Mulai sekarang
gantilah menu hariannya dan konsumsi susu yang tidak mengandung jenis
makanan itu. Nanti akan saya berikan resep sederhana untuk panduan Ibu
dalam memberi makanan pada Nathan. Tapi di pasaran juga sudah banyak
diterbitkan buku-buku masakan untuk anak Autis, cobalah cari
ditoko-toko buku. Tidak usah cemas Bu. Usia Nathan masih terbilang
muda saat terdeteksi. Ada pasien saya yang sudah berusia empat tahun
ketika orang tuanya sadar anaknya menderita Autis dan bisa disembuhkan
meskipun masih terus menjalani terapi lanjutan sampai saat ini. Yang
terpenting dalam hal ini adalah dukungan, kasih sayang serta perhatian
tulus dari Ibu selaku orang tua Nathan".

Dokter Farras menepuk-nepuk bahu Mazaya seolah hendak memberi kekuatan
pada Ibu muda itu. Tak ada satu orang tuapun yang menghendaki anaknya
terlahir dengan kondisi tersebut. Tapi apapun kenyataannya, mata batin
Mazaya sudah bisa melihat gambaran kehidupan seperti apa yang akan
dilaluinya bersama Nathan.

Haykel termenung sedih mendengar penuturan Mazaya. Ia tak habis pikir
bagaimana bisa penyakit menakutkan itu menghinggapi buah hatinya.

Padahal ia sendiri terlahir dari keturunan yang kesemuanya sehat dan
tidak ada yang beriwayat hiperaktip apalagi Autis.

"Mungkin diagnosa Dokter Farras salah, coba bawa Nathan ke dokter anak
yang lain" ujarnya tak yakin.
"Dokter Farras menggunakan DSM-IV atau ICD-10 saat menarik kesimpulan
mengenai penyakit itu, menurutnya itu adalah standar internasional
untuk mendeteksi Autisme. Setelah diwawancara, Ia juga menyuruhku
mengisi form kuesioner berkenaan dengan kondisi Nathan. Dan tiga hari
lagi Nathan diminta untuk melakukan pemeriksaan fisik seperti darah,
urine dan lainnya. Boleh juga sich, minta pendapat dokter lain tapi
bukannya itu malah buang waktu. Lebih baik kita ikuti saja saran
Dokter Farras untuk menjalani terapi dan pengobatan medis buat Nathan"

Ujarnya serius seraya menyelimuti tubuh Nathan "Kebetulan Dokter
Farras itu juga yang menangani anaknya Linda, jadi pengalamannya untuk
pasien Autis sudah tidak diragukan lagi."
Haykel menghela nafas dalam Jadi kamu terima saja anak kita di vonis
Autis ?" ujarnya meninggi. "Lalu mau bagaimana lagi ? Hal terbaik yang
bisa kita lakukan adalah segera berbuat sesuatu buat Nathan". "Aku
nggak percaya ! Aku ini dari keturunan yang bersih, tidak mungkin
anakku menderita penyakit itu !" sahut Heykal semakin meninggi. Mazaya
mencoba menenangkan rasa frustasi suaminya.

"Autis bukan penyakit keturunan Mas. Menurut Dokter Farras, Autis bisa
disembuhkan walau memakan waktu lama dan sangat membutuhkan kesabaran
serta kasih sayang kita selaku orang tuanya." Ujar Mazaya sambil
menggenggam jemari suaminya yang dingin.
"Mas, Nathan adalah anak kita. Terimalah kehadirannya sebagaimana dia
adanya. Nathan apalagi kita memang tak menghendaki takdir ini. Tapi
kita lah yang ditunjuk Tuhan untuk memberikan masa depan terbaik buatnya."

Heykal hanya terdiam kaku. Entah hormon apa yang tengah bekerja
ditubuhnya saat ini. Yang jelas ia seolah ingin lari dari kenyataan
yang ada. Ingin mengingkari nasib yang kini menjadi bagian dari
hidupnya. Malah dihatinya terbit kebencian tak beralasan pada Mazaya.
Waktupun berlalu. Kini seluruh hidup Mazaya hanya tertumpah untuk
Nathan. Karirnya sebagai Account Executive di sebuah perusahaan
asing, ditinggalkannya. Kegiatan Mazaya hanya berkutat pada pengobatan
dan terapi buat Nathan. Walaupun perkembangan berarti belum juga
ditemuinya.

Kini Nathan sudah berusia 2 tahun. Tapi ia belum lagi bisa berucap
kata-kata dengan artikulasi yang jelas dan bermakna. Kalau anak normal
sudah bisa berlari. Nathan baru bisa berjalan dengan merambat ke
dinding. Namun Mazaya adalah Ibu yang kuat dan tabah. Ia tetap
tersenyum saat kontak mata dengan buah hatinya begitu sulit didapat.
Bahkan kelelahan mengurus Nathan dipagi hari tak dirasakannya saat
Nathan mengalami insomnia dimalam harinya. Ia tetap menemani Nathan
sambil berusaha melakukan interaksi dengan berbagai permainan yang
dapat menarik perhatian agar Nathan tidak terus terjerat dalam dunia
autisnya.

Sementara Mazaya tenggelam dalam kesibukannya merajut dunia yang
seharusnya untuk Nathan. Lain halnya dengan Haykel. Ia sama sekali tak
peduli dengan keadaan anaknya. Dulu ia tak pernah pulang lewat jam
tujuh malam tapi sekarang, Haykel lebih sering menghabiskan waktunya
diluar bersama teman-temannya. Ia memang tidak setegar Mazaya.
Terlahir ditengah keluarga bangsawan yang serba berkecukupan
membuatnya begitu rapuh dan malu menerima kenyataan yang ada pada
Nathan. Tapi Tuhan akan selalu mengirimkan Ibu terbaik pilihanNya pada
setiap anak dengan takdir seperti Nathan dan ia akan senantiasa
memiliki semangat dan energi berlebih untuk membawanya keluar dari
dunia yang melingkupinya saat ini. Dunia dimana hanya ada satu warna,
satu bentuk, satu arti dan sulit dimengerti. Dan Mazaya tanpa lelah
melobby Tuhan lewat usaha serta doanya dalam menarik buah hatinya dari dunia muram itu.

Mazaya terbelakak tak percaya melihat resep suplemen dan vitamin yang diberikan Dokter Farras. "Sebanyak ini Dok ? Apa bisa Nathan menelan kapsul sebanyak ini dalam sehari ?" "Harus. Kapsul-kapsul itu adalah
suplemen dan vitamin untuk membantu tumbuh kembangnya yang lambat".
Mazaya menghela nafas berat. Balita sekecil itu sudah diharus kan
akrab dengan segala macam bentuk penyembuhan yang terkadang membuatnya tak nyaman. Terapi dan pengobatan yang dijalani Nathan saat ini sudah merupakan siksaan batin tersendiri buat Mazaya. Kini, ia diharuskan
tega untuk memberi kapsul-kapsul suplemen dan vitamin ke mulut
kecilnya setiap hari !. Mazaya menghampiri Haykel yang tengah asyik
menonton TV. "Mas, tadi Dokter Farras meresepkan suplemen-suplemen ini
untuk Nathan. Ada 25 kapsul yang harus ditelannya setiap hari." Suara
Mazaya merendah demi melihat air muka suaminya yang dingin tanpa
reaksi, sementara tatapannya sama sekali tak beranjak dari acara
"Candid Camera".

"Mas, bantu aku yah... Nathan pasti mengamuk kalau dia tahu harus
menelan kapsul sebanyak ini". "Ah ! minta tolong suster dan Mbok Ipah
saja. Masa tiga orang tidak cukup. Memangnya dia Hulk" Sahutnya kasar
seraya membanting remote control digenggamannya. Mendengar itu amarah
Mazaya langsung memuncak. Kesabarannya habis sudah demi melihat
tingkah suaminya yang sudah mati rasa dan tak berhati lagi. Pluk!
Asbak rokok seberat 1 kg pun mendarat di kening Haykel. Haykel berdiri
dengan amarah yang tak kalah dahsyatnya. Diraihnya tubuh ringkih
Mazaya lalu dilemparnya dengan kasar hingga membentur dinding.
"Perempuan kotor ! Itu salahmu dan tanggung jawabmu hingga punya anak
idiot seperti itu !" umpatnya kasar. Mazaya ingin membalas tapi segera
di relai Mbok Ipah.

"Nathan Bu, ingat Nathan" Bujuk wanita tua itu gemetar. "Selama kamu
tak bisa menerima keadaan Nathan, lebih baik tinggalkan saja kami"
Ujar Mazaya seraya berlalu dengan mata sembab. Dan keinginan Mazaya
ternyata ditanggapi sangat serius oleh Haykel. Surat ceraipun tiba
satu bulan setelah kejadian itu. Tak ada pihak yang dapat mendamaikan
mereka lagi. Haykel bagai tengah kerasukan setan dari neraka paling
dasar, sementara Mazaya tak punya ruang lagi di batinnya untuk
kedukaan lain. Nathan, hanya manusia kecil itu yang ada dibenaknya
serta serentetan usaha penyelamatan buatnya. Beruntung keluarga Haykel
masih mau berbelas kasihan pada Mazaya dan Nathan. Biaya hidup dan
pengobatan Nathan sepenuhnya ditanggung oleh Ayah Haykel. Bahkan rumah
yang selama ini mereka tempati dihibahkan untuk Mazaya, hanya mobil
yang biasa dipakai Nathan untuk berobat dan terapi tak ada lagi,
Haykel dengan tega telah menjualnya. Sehingga Mazaya harus berhemat
dengan biaya yang ada, karena taxi adalah pilihan kendaraan paling
nyaman buat Nathan saat ini. Bahkan dengan berat hati ia pun harus mem
PHK Suster Anis karena keterbatasan dana. Kini, hanya sisa Mbok Ipah
dengan segala kekurangannya sebagai pengasuh usia
setengah abad. "Kita adalah orang tua pilihan Tuhan. Karena kita
memiliki nilai lebih di mataNya dibanding orang tua lain pada umumnya.
Sehingga ada Nathan dan Qiandra di kehidupan kita" Ujar Linda saat
Mazaya berkunjung kerumahnya dan berkeluh kesah tentang nasibnya.
"Kamu beruntung Lin. Ayah Qiandra begitu bertanggung jawab dan bisa
menerima keadaan anaknya dengan berbesar hati". "Sudahlah Mazaya,
pasti ada hikmah dibalik semua ini. Toh Nathan juga masih beruntung
memiliki Opa dan Oma yang begitu mengasihinya dari pihakmu dan
Haykel". "Mengapa aku harus menikah dengannya" tangis Mazaya
menyesali. Linda memeluk tubuh karibnya yang terguncang tangis.
"Jangan pernah menyesali yang telah lalu. Ada Nathan dihadapanmu. Pada
suatu saat nanti, dialah yang akan memberi makna paling berarti
dikehidupanmu. Usahamu untuk penyembuhan Nathan melebih apa yang sudah
aku lakukan buat Qiandra. Lihat saja, dia sudah menunjukkan kemajuan
yang berarti khan?" Bujuk Linda lembut. Mazaya mencoba menerima segala
masukan dan nasehat dari orang -orang yang bersimpati padanya. Yah,
memang hanya Nathan satu -satunya sinar hidup yang masih menyala
terang dijiwanya. Mazaya yakin, kelak sinar itu pula yang akan
membawanya keluar dari kegelapan yang melingkupi hidup mereka saat ini.

Lima tahun pun berlalu. Usia Nathan genap enam tahun, secara klinis
kini ia tak lagi menunjukkan ciri-ciri autis, hanya saja cara ia
berkomunikasi masih sering memiringkan kepalanya. Tapi kemajuan pesat
menuju normal telah dimiliki Nathan. Ia kini sudah bisa bersepeda roda
dua. Meniup sendiri balon-balon ulang tahunnya. Padahal saat ia
berusia dua tahun, butuh enam bulan lamanya berlatih, baru mulut
kecil itu bisa melakukan gerakan meniup. Namun apapun perubahan yang
terjadi pada diri Nathan adalah mukjizat terindah yang sangat
disyukuri Ibunya. Kehidupan Mazaya pun merambat naik. Saat Nathan
mulai bisa mandiri. Secara perlahan ia pun kembali memasuki
kehidupannya yang pernah dilepaskan demi membentuk masa depan bagi buah hatinya. Mazaya kembali bekerja meskipun harus merambah dari dasar. Hingga akhirnya tak ada ketergantungan materi dengan siapapun. Kini ia telah mampu
bernafas lega setelah selama lima tahun seolah bernafas dalam lumpur.
Mazaya menggenggam erat jemari Nathan. Wajah mungil yang mewarisi
ketampanan Heykal dan garis-garis ketegaran wajah Ibunya itu terlihat
tegang. Hari ini adalah final "Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional" yang
diikutinya. "Mama, aku takut kalah" ujarnya ragu. Mazaya tersenyum
lembut seraya membelai rambut putranya. "Nathan khan tadi sudah berdoa
dan minta sama Tuhan untuk dikasih kemenangan. Jadi, harus yakin bisa
menang. Yang penting bacanya nanti yang bagus ya sayang" Sahutnya
memberi semangat. Namun tak urung dada Ibu muda itu terasa sesak, ia
takut Nathan kalah dan kecewa karena ia bertanding dengan 7 anak normal lainnya yang terseleksi masuk babak final hari ini. Tapi dari kesemua peserta, hanya Nathan lah yang beriwayat autis.

**Mama,***
**Aku memang terlahir beda***
**Kataku sulit dicerna**
**Wajahku tak bersinar ceria**
**Aku hidup didunia tanpa warna..**
**Mama,***
**Ada jemarimu menyaput warna diduniaku***
**Ada senyummu memberi bentuk di abstraknya hidupku**
**Ada senandungmu di senyapnya malamku.**
**Mama,***
**Kini duniaku tak lagi gulita***
**Doa mu melebihi mukjizat yang pernah ada**
**Kini aku hidup seperti mereka, dapat tertawa, bercanda dan berkarya**
**Terima kasih Mama,**
**Telah merajut rapi benang-benang masa depanku**
**Walau kutahu betapa banyak duka, derita dan air mata telah tertumpah**
**Peluk, cium serta sujudku, hanya untukmu yang selalu tercinta.... **

Air mata Mazaya menetes deras, ada letupan-letupan bahagia yang
begitu dahysat didadanya. Tepuk tangan riuh terdengar dari seluruh
penjuru gedung. Semua juri berdiri memberi penghargaan, mungkin karena
mereka tahu Nathan adalah penyandang autis yang berhasil menyamai
kepintaran anak normal. Bahkan Mazaya hampir tak percaya pada
kalimat-kalimat puisi yang begitu jelas diucapkannya. Secara subyektif, Mazaya yakin anaknya lah yang paling bagus dalam hal penampilan dan pembacaan
puisi. Ternyata apa yang diduga Mazaya benar. Pengumuman pemenangpun
dibacakan dan... Juara pertama diraih oleh Muhammad Nathan Ibrahim.
Ibu muda itu serta merta memeluk tubuh Nathan yang tiba-tiba terasa
dingin. Senyum ceria terpencar diwajah mungilnya. Senyum yang begitu
lama diperjuangkan olehnya. "Mama, itu kan namaku" ujarnya lugu "Ia
Nak, kamu pemenangnya !

Dengan langkah mantap. Nathan pun melangkah menuju panggung
penghargaan. Sama sekali tak terlihat ciri-ciri autis pada dirinya.
Mazaya memang telah berhasil membawa buah hatinya keluar dari dunia
yang tak pernah di harapkan oleh Ibu manapun di jagat ini. Selama lima
tahun berjuang, akhirnya Mazaya berhasil mempersembahkan sebuah dunia
bagi Nathan. Dunia yang sebenarnya, dimana ia akan mendapatkan banyak
pilihan dalam bercita-cita.

Berita kemenangan Nathan yang diliput beberapa media massa, akhirnya sampai juga pada Haykel. Ada yang tercabik-cabik dihatinya. Haru, sesal dan berjuta perasaan berkecamuk dibatinnya. Nathan terlihat begitu gagah dengan piala ditangannya. Senyumnya mengembang ceria meliputi kesempurnaan wajah tampannya. Ingin rasanya ia berlari memeluk pria kecilnya yang pernah dicampakkan dan dianggap tak berguna. Sayangnya Haykel tak pernah mengetahui kekuatan yang dimiliki Mazaya. Ia tak pernah menyadari, begitu banyak mukjizat terlimpah dan tercipta untuk seorang Ibu seperti Mazaya. Ada
keinginan dihatinya untuk kembali memasuki kehidupannya yang dulu.
Tapi lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk suatu perubahan.
Hidup Haykel kini telah diramaikan oleh Natasha dan Mandira - bayi
perempuan mungil berusia satu tahun yang terdiagnosa tuna rungu sejak
lahir. Karma Tuhan memang selalu nyata. Dulu Haykel pernah menolak
kehadiran Nathan, tapi kemudian takdir kembali mempertemukannya dengan
Mandira yang menuntut tanggung jawab dan perhatiannya sebagai orang tua.

Ia pun akhirnya tersadar "setiap anak adalah kado terindah dari
Tuhan", hanya terkadang mereka datang dengan sampul yang berbeda.
Adakalanya hadir dengan motif indah menawan Namun tak jarang
terbungkus dalam sampul buram tanpa warna. Tapi apapun bentuknya
mereka idak hadir begitu saja apalagi diluar rencana atau ketidak
sengajaan. Keberadaannya, selalu membawa pesan atau pembelajaran
tersendiri bagi orang dewasa.

Alangkah bahagianya jika seorang anak diberitahu bahwa alasan mereka
dilahirkan adalah karena ada rencana besar Tuhan dan kedua orang tua
mereka yang selalu mempersiapkan sebentuk masa depan indah dan kasih
sayang berlimpah.

Minggu, 30 November 2008

ANAK BELAJAR

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, dia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, dia belajar mendengki
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu, dia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, dia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan ketekunan, dia belajar menghadapi tantangan
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, dia belajar mengenali diri
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, dia belajar dermawan
Jika anak dibesarkan dengan jujur &t erbuka, dia belajar kebenaran & keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, dia belajar temukan cinta dalam hidup
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, dia belajar berdamai dengan pikiran

(writen by: Dorothy)

c