Laman

c

Tampilkan postingan dengan label poso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poso. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2019

MANAKAH YANG UTAMA, MENGQADHA PUASA ATAU PUASA SYAWWAL ENAM HARI?



Asy-Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan hafizhahullah

Pertanyaan:
Apa yang lebih utama, mengqadha puasa yang pertama kali kemudian puasa Syawwal enam hari atau sebaliknya?

Jawaban:
Mengqadha puasa itu luas waktunya, namun jika puasa Syawwal enam hari akan terluput, maka dia berpuasa Syawwal enam hari.

Hanya saja Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berpendapat: Harus mengqadha puasa dulu, karena Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فكَانَما كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yg berpuasa Ramadan kemudian diikuti 6 hari di bulan Syawwal, seakan-akan berpuasa setahun penuh (H.R. Muslim).

Sehingga orang yang menanggung qadha puasa tidak berpuasa Syawwal dulu.

🌐 http://www.alfawzan.af.org.sa/node/16199 || @ukhwh

10 hari terakhir Ramadhan



Atur ulang strategi dan manajemen waktu ibadah

- Buka buku sholat lagi..perbaiki amalan utama
- dzikir di setiap helaan nafas
- sholat tobat,hajad,tasbih
- tahajud,fajar,dhuha tiap hari
- rawatib mengiringi setiap fardhu
- yg belum khatam..selesaikan
- sedekah di tingkatkan
- bongkar lemari dan barang2 di rumah..yg bisa di sedekahkan sedekahkan..
- urusan lebaran jangan mengecoh amalan final ini
- pastikan terus minta ampunan

Share..ingatkan temen2 kita
Jangan sampe tidak siap hadapai waktu final ini...

Allohumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa afua'ni...Aamiin

LAILATUL QADR



Allaah Subhanahu wa Ta'aala berfirman :

{ إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) }

 “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr (97): 1-5)

 Malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam diturunkannya AlQur'an yang mulia, amat sayang terlewatkan jika tanpa amaliyah ibadah.

 Syaikh Zarqani menerangkan, bahwa malam Laylatul Qadar adalah Laylatul Mubaarokah(yang penuh kebaikan), dan hanya ada pada bulan Ramadhan. Keterangan ini diambil dari ayat ayat yang menerangkan seputar turunnya AlQur'an, pada QS. Ad-Dukhan, Al Baqarah dan AlQadr. (Manaahil al-'Irfan, 1/38)

 Sebagian riwayat menerangkan, bahwa datangnya laylatul qadar, saat  sepuluh malam terakhir atau tujuh malam terakhir.

Karena itulah Rasulullaah mengencangkan ikat pinggangnya saat memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari No. 1920)

 Syaikh Musthofa Al Bugha berkata, “Ini adalah kinayah(perumpamaan) bagaimana persiapan nabi dalam ibadah dan kesungguhan untuk ibadah(di sepuluh terakhir Ramadhan)”. (ta'liq dalam hadits tersebut).

Memang ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa laylatul qadar pada sepuluh terakhir ramadhan.
Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari No.1158)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Saya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari No. 2015, 6991, Muslim No.1165)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim No. 1165, 209)


Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ

“Sesungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil.” (HR. Bukhari No. 813, 2036)

Adapula nash yang menerangkan datangnya laylatul qadar itu pada malam ke 24,  25, 27 dan 29.

 Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

التمسوا في أربع وعشرين

  “Carilah pada malam ke 24.” (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 2022)

Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَة

وَالْخَامِسَةِ

 “Maka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir).” (HR. Bukhari No. 2023)

  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ
هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
 
“Demi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.” (HR. Muslim No. 762)

Berkomentar Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani rahimahullaah,

  “Para ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.” (Fathul Bari, 4/262)

Amalan - amalan yang dapat dikerjakan untuk meraih kemuliaan laylatul qadar :

🔹 Dzikir dan Memperbanyak Do'a

Membaca: Allahumma Innaka ‘afuwun karim tuhibbul ‘afw fa’fu’anni

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

  Dari ‘Aisyah dia berkata “Aku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku katakan?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.” (HR. At Tirmidzi No. 3513, Ibnu Majah No. 3850)  

  🔹 Qiyamul Layl (Sholat Malam)

  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Dan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar karena Iman dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 35, 38, 1802. Muslim No. 760)

🔹 I’tikaf

  Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau selalu melakukannya sampai Allah mewafatkanya. Kemudian para isterinya beri’tikaf setelah beliau wafat.”  (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Adapun bagi kaum perempuan yang berhalangan, itu berarti dapat mengerjakan amalan dengan dzikir, doa, sholawat, dan amalan amalan baik lain di rumah. In Sya Allaah kemuliaan lailatul qadar tidak hanya terdapat di Masjid. (Al Ihkam, 2/305)

✍🏻 Muhammad Rivaldy Abdullah
🌸🍃 Yuk Sebarkan..

Instagram : www.instagram.com/ngaji_fiqh

Facebook : www.facebook.com/MuhammadRivaldyAbdullah

Telegram : Ngaji FIQH
https://telegram.me/ngajifiqh

Sauuuuuuuuuuuurr



Sauré Pegawai Negri
Lawuhé gudheg gori
Karo osèng teri lan pèpès tengiri
Minumé nutrisari
Pacitan roti mari
Dhasar bar nompo gaji bulan Juni ketambahan tunjangan idul fitri
Mongko mulai sesuk wis prèi
Mulo mukané berseri
Awit iso tuku kathok klambi karo kebutuhan sehari hari
Kabèh kudu disyukuri
Rampung saur terus nang mburi
Wudlu ngresiki tangan, sikil lan rai
Terus tindak masjid karo anak istri
Jamaah subuh ojo nganti kèri
Rampung subuh Qur'ané dipelajari
Donga panyuwunan ugo dilubèri
Ngaturké panuwun awit pinaringan rejeki
Persasat cukup ngarep turah mburi
Nyuwun ngapuro dosa luput kang wus kawuri
Mugo2 Lailatul Qodr ugo biso terpatri
Supoyo ibadah romadloné ora ciri
Slamet ndonya slamet ukhrowi
Insya'Alloh mbèsuk mlebu swargo tanpo mbukak kori
Wus cumepak kari ngenggoni
Aamiin

Sugeng dhahar saur

jangan berubah setelah ramadhan



MUKIDI TELPON RADIO SUARA RRI



Mukidi :
Hallo .... po bener iki Radio Suara RRI ....?

Penyiar :
Injih leres .... meniko Radio Suara RRI Semarang ... wonten kerso menopo Bapak ...?

Mukidi :
Aku yen request iso ora ...?

Penyiar :
Ngersak aken lagu menopo pak Mukidi...?

Mukidi :
Tulung setelno Adzan Maghrib                  wetengku perih tenan iki ...

Kamis, 08 Oktober 2015

Keistimewaan Puasa Senin-Kamis


Selasa, 27 Januari 2009

Belajar Menjadi Kuat dengan Puasa

Salah satu sikap yang ditanamkan saat kita melakukan puasa adalah berusaha menahan marah. Dalam sebuah hadits disebutkan, bila ada seseorang yang memancing kemarahan orang yang puasa, menurut Rasulullah, hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya saya sedang puasa.”

Apakah kita dilarang marah? Tidak juga. Tak ada manusia yang bisa terlepas dari sikap marah. Rasulullah pun pernah marah. Dan karenanya marah bukan sesuatu aib dan tidak dianggap sebagai penyakit. Marah, dalam waktu tertentu, malah diharuskan. Rasulullah sangat marah bila melihat perintah Allah swt dilanggar. Al-Qur`an bahkan mencantumkan salah satu sifat sahabat Nabi adalah keras terhadap orang-orang kafir. Dan kekerasan adalah salah satu lambang kemarahan. Allah swt berfirman dalam surat al-Fath ayat 29, “ (Mereka) keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka.”

Kemarahan dalam beberapa ayat Allah dan anjuran Rasulullah memang dianjurkan. Sikap orang yang tak memiliki sikap marah dan sama sekali tidak berdaya termasuk sikap yang tidak baik. Imam Syafi’i mengatakan, ““Barangsiapa yang dibuat marah tapi ia tidak marah maka ia adalah keledai.” Begitulah.

Tapi tentu tidak berarti kita lantas mengobral kemarahan? Tidak berarti kemarahan harus dilepaskan tanpa kendali. Islam dengan segala kesempurnaan ajarannya telah meletakkan batas-batas marah yang diperbolehkan dan yang dilarang. Rasulullah saw tidak pernah marah oleh masalah yang skupnya adalah pribadi. Kejahatan dan kebengisan orang-orang kepadanya, yang bersifat menyakiti fisik beliau, sama sekali tak memancing kemarahannya. Yang muncul dari sikap orang-orang itu, justru kesantunan dan kepemaafan Rasulullah. Itulah Rasulullah yang dengan sikapnya tersebut, justru banyak menaklukkan kejahatan dan kekasaran terhadap dirinya hingga memunculkan rasa simpati dan hormat kepadanya.

Itu sebabnya, tatkala Abdullah bin Amr bertanya kepada Rasul tentang amal yang dapat menyelamatkannya dari murka Allah, Rasulullah mengatakan singkat, \"Janganlah kamu marah.\" (HR. Abu Ya’la) Rasulullah mengenal salah satu tabiat Abdullah yang kurang baik, yakni kurang bisa mengendalikan diri di saat marah. Terutama ketika menghadapi berbagai persoalan yang terkait dengan masalah pribadi. Karena itu beliau tegas menekankan nasihatnya agar Abdullah mampu mengendalikan amarah.

Itu pula sebabnya ada perkataan orang-orang shalih, \"Hindarilah kemarahan, karena ia akan menyeretmu pada hinanya meminta maaf.\"

Sifat marah yang sangat mendominasi dalam diri seseorang akan membawa orang tersebut melakukan berbagai hal yang lepas kendali pertimbangan akal, apalagi pertimbangan agama. Maka, Rasulullah sangat menghargai orang yang dapat menahan marah. Kekuatan seseorang, menurut Rasulullah dilihat dari seberapa kuat ia menahan gelegak amarahnya, ketika ada sesuatu masalah pribadi yang memancingnya untuk marah. \"Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik, tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat ia marah.\" (HR Bukhari dan Muslim)

Mari kita belajar menjadi orang kuat melalui puasa ....

c