Laman

c

Jumat, 26 Februari 2010

ENSIKLOPEDI CINTA

Ensiklopedi Cinta Yang Syar'i

Cinta Kepada Alloh SWT
Engkau durhaka kepada Alloh SWT dan sekaligus menaruh cinta
kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan !. Apabila benar engkau
mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah
orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa
syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya. (Imam Syafi'i)


Mencintai Wanita
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, "Mencintai
wanita adalah awal sebuah derita.
"Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang
tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu."(Imam Syafi'i)

Senda Gurau
Yaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi'i, dia
mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi'i pernah menikahi seorang
wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi'I pernah mencandai
istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai
wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu
berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran,
ia tak akan menggubrismu.(Imam Syafi'i)

Membalas Kebaikan dengan Kejahatan
Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang
sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan
seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau
binasa.(Imam Syafi'i)

Mencintai Orang-orang Saleh
Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk
golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat
dari mereka.
Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku
pun termasuk golongan mereka.(Imam Syafi'i)

Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah
Wahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur'an.
Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk
kalian, tidak akan mendapat rahmat.(Imam Syafi'i)

Cinta Alloh SWT pada Manusia
Rasulullah Saw. bersabda, Alloh SWT Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai
Aku mencitainya.
Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya,
penglihatannya… (Hadis Qudsi)


Cinta Membersihkan Hati
Cinta kepada Alloh SWT dapat membersihkan hati dari kenistaan dan
ketergantungan terhadap dunia.
Cinta kepada Alloh SWT adalah factor yang terkuat pengaruhnya dalam
hati manusia. Ia adalah api dan cahaya.
Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
(Muhammad Mahdi al-Shifi)

Menangis Bukan Karena Cinta Dunia
Amru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang
menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
"Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang
kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim
panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin."
(Muhammad Mahdi al-Shufi)

Rindu pada Alloh SWT
Abdullah bin Zakaria berkata:
"Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan
kugunakan untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan nyawaku diambil hari
ini
juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena
rinduku kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari
hamba-hamba-Nya.( Muhammad Mahdi al-Shifi)

Sakit Cinta
Suatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz,
"Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan
kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan
sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda.
Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari
segala penyakit lain.

Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan
ditimpa penyakit lain.
Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua
orang ingin membelinya.*

Jangan Cinta Seperti Anjing
Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara
seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan
tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda
jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik
kepada Anda.

Anda jangan sekali-kali lebih rendah dari seekor anjing, sebab
anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik kepadanya.(Imam
al-Ghazali)

Kehilangan Mahabbah
Mahabbah kepada Alloh SWT ibarat air kehidupan bagi hati dan
konsumsi pokok dari setiap jiwa manusia.
Tidak ada kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan bagi
hati, kecuali dengan mahabbatullah. Apabila hati manusia kehilangan
mahabbah, maka ia akan merasakan sakit yang amat sangat, melebihi
sakitnya mata yang kehilangan korneanya, telinga yang kehilangan
gendang pendengarannya, bahkan menyebabkan kerusakan hati.
Apabila hati sudah kosong dari mahabbah kepada Sang Khalik, maka
dapat dipastikan bahwa rusaknya hati lebih parah daripada rusaknya
raga terpisah dari ruhnya. (Dr. Ahmad Faried)


Hati Orang Bermahabbah
Fatah al-Mushili berkata:
"Orang yang memiliki mahabbah, baginya dunia ini bukan tempat
mereguk semua kelezatan yang kekal, selalu mengingat Alloh SWT,
walaupun hanya sekejap mata."
Sebagian ulama salaf berkata: "Orang yang bermahabbah, hatinya
senantiasa melayang mencari-Nya, mencari keridlaan-Nya dengan segala
cara ia mampu untuk melakukannya berupa amalan-amalan fardlu maupun
sunnah (nawafil), dengan merasakan rindu yang membara (syauq)
kepada-Nya.( Dr. Ahmad Faried)

Cinta dan Pengampunan
Cinta dan pengampunan Alloh SWT kepada manusia adalah rahmat.
Sedangkan cinta manusia kepada Alloh SWT adalah suatu kualitas yang
dimanifestasikan di dalam hati para Mukminin, sehingga mereka akan
selalu berusaha memuaskan Kekasihnya.

Merasa serentak dan tanpa henti-hentinya, dorongan rindu tanpa
henti-hentinya untuk dapat memandang Alloh SWT serta tidak dapat
dialihkan kepada siapa pun kecuali Alloh SWT.

Akan selalu merasa akrab dengan mengingat-ingat-Nya dan bersumpah
tidak akan mengalihkan ingatannya itu kepada selain-Nya.
(al-Hujwiri)

Dua Macam Cinta Mukminin
Para Mukminin yang mencintai Alloh SWT terdapat dua macam:
Pertama, mereka yang menganggap bahwa kebaikan dan kedermawanan
Alloh SWT kepada mereka, dan dibimbing oleh anggapan tersebut untuk
mencintai Sang Dermawan.

Kedua, bagi mereka yang tertawan hatinya oleh cinta, di mana mereka
berpendapat bahwa semua kebaikan-kebaikan Alloh SWT bagaikan sebuah
hijab (antara mereka dengan Alloh SWT), dan dengan manganggap Alloh
SWT sebagai Dermawan akan membimbing pada perenungan kebaikan-kebaikan
Alloh SWT.(al-Hujwiri)

Cinta Orang Kafir dan Beriman
Alloh SWT Swt. berfirman:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Alloh SWT, mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Alloh SWT. Adapun orang-orang yang beriman dengan
sangat mencintai Alloh SWT. (QS. al-Baqarah: 165).

Zuhud Dunia
Rasulullah Saw bersabda:
Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Alloh SWT akan mencintaimu.
Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.

Cinta bagaikan Bara Api
Cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat
bagi seluruh kekurangan diri.
Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang
dicinta.
Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat
membakar semuanya, selain Alloh SWT Swt.

Ibadah dengan Cinta
Di taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi
keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan
kebahagiaan.
Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi
beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima
dengan senang dan gembira. (Khalid Muhammad Khalid)

Cinta Ingin Berjumpa dengan Alloh SWT
Cinta kepada Alloh SWT itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai
penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu
tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam
kerinduan.
Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia
fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal,
agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Alloh
SWT Swt.( Khalid Muhammad Khalid)


Sumber:
Faathul Barii, MinHajul Qashidiin, Al-Hikam, Al-Azkaar, Riyadhis Shalihin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

c

artikel terbaru