Laman

c

Minggu, 12 Juni 2016

Bahaya hedonisme

BAHAYA HEDONISME
Oleh Prof. DR. H. Fauzul Iman, MA.
Baru-baru ini kita telah dihebohkan oleh adanya isu prilaku hedonisme yang mulai melanda di kalangan kaum elit (eksekutif, legislatif, yudikatif, direktur BUMN-BUMD, gubernur, bupati, walikota, kepala dinas dll).  Apabila isu ini benar pertanda negara kita telah mendekati ambang kehancuan. Hedonisme adalah gaya hidup yang hanya mengutamakan kenikmatan bendawi sebagai satu-satunya tujuan hidup. Ajaran agama menggambarkan kegandrungan gaya hidup hedonis dalam mengejar hidup  hari ini tetapi dangkal di dalam memahami hidup hari depan ( Q.S :  30 : 7 ).
Dalam mindset hedonis, dunia hari ini merupakan wadah aji mumpung  untuk mengoleksi hiasan hidup bermakna bendawi. Baginya  setumpuk kemewahan dikuasai demi memenuhi selera pribadi. Tak peduli kemewahan itu didapat dari  mana dan dengan cara apa yang penting kelezatan hidup berada digenggamannya. Gaya hidup seperti ini amat naif karena apa  yang selama ini diraihnya berupa kelezatan  hidup diklaim berasal dari dirinya dan hanya untuk dirinya. Sementara dimensi sepritual yang berfungsi sebagai lokomotif dan  energi penggerak  kehidupan hari depan sangat diremehkan.      
Peremehan terhadap dimensi spiritual ini  dalam  bahasa teologis disebut dengan istilah deghaibisasi, yaitu sikap menafikan keyakinan terhadap adanya sesuatu yang ghaib seperti sikap tidak percaya adanya antara lain tuhan, akherat , surga,  neraka dan hari kiamat. Sikap demikian sangat  berbahaya karena mendorong tumbuhnya aroganisme individu yang tidak percaya lagi  pada aturan normatif seperti undang-undang dan nilai agama. Akibatnya semua yang bernilai lahiriah seperti status, harta dan kedudukan diterabas dan diraup tanpa mengindahkan norma dan undang-undang yang berlaku. Pokokoknya semua yang ada di dunia ini akan digasak tak peduli apakah milik orang atau milik negara.
Watak hedonis ini jelas sangat berbahaya dan mengancam kemaslahatan umat. Al-Qura'n menyebutnya sebagai mahluk Qarun yang sangat gemar dengan kepuasan dunia sesaat.  Qarun adalah manusia hedonis yang sehari-harinya  menimbun karungan harta dan  emas   di dalam istananya yang megah. Kunci-kunci pintu istanannya  sangat besar sehingga tidak seorang pun mampu mengangkatnya (Q.S. 28 :76 ) . Namun Qarun bersikap congkak  pada rakyatnya yang selama ini telah memperjuangkannya menjadi orang terkenal. Setiap kali ia  keliling untuk memamerkan hartanya di tengah rakyat, ia mengklaim semua harta yang dimilikinya sebagai hasil usahanya sendiri (Q.S. 28 :78) Ia tidak percaya adanya Tuhan yang selama ini telah memberkahi hartanya melalui dukungan rakyat yang dipimpinannya. Qarun benar-benar tersihir oleh gelimang kemkmatan duniawi. Ia tidak mengetahui arti masa depan  di akhirat  kelak yang di Tangan Tuhanlah terbukti adanya kekuasaan abadi. Kecuali  di tengah rakyatnya ia berlaga feodalis, gemar mencaci dan menghianati.
Atas kesombongan Qarun tersebut,  maka Allah menghukumnya dengan cara menjungkirbalikkan istana megahnya sehingga Qarun pun terbenam dalam reruntuhan istana bersama timbunan hartanya. Tak satupun dari para kroni dan orang-orang di sekitarnya yang sanggup menolongnya (Q.S. 28 : 81). Inilah bahaya dan ancaman bagi seorang Qarun yang gemar bergelinjang dengan watak hedonismenya yang amat sesaat tapi gersang dalam menagkap hari depan.
Oleh karena itu, di bulan ramadhan ini merupakan momentum  terbaik bagi kaum elit yang telah diberi amanah memimpin atau mewakili rakyat hendaknya menjauhi prilaku hedonis sehingga di negeri kita ini tidak akan terisi oleh para pemimpin yang kerjanya hanya mengais harta dan mendatangkan malapetaka. Semoga bermanfaat.Aamiin !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

c

artikel terbaru