Laman

c

Jumat, 02 Januari 2009

Berdakwah,Siap?

oleh Yulia Safitri
------------ ------

Pagi cerah di musim gugur,langkahku tertahan oleh senyuman manis saat menuju pasar untuk belanja keperluan Bos.

‘Apa kabar?Siapa namamu?Aku ingin berbincang denganmu?’.Sapa ramah seorang wanita Philipina,dengan bahasa Indonesia yang nyaris tanpa aksen.

‘Maaf,saya sedang buru-buru’

‘Kapan kapan,kita ngobrol ya.Ini untukmu,silahkan baca’,tangannya mengulurkan sebuah majalah ahli kitab berbahasa Indonesia.Kusambut, mengucapkan terimakasih, dan tangan kami saling melambai.

Alhamdulillah, hijab slalu menghiasi keseharianku. Bukan sekedar ingin menunjukkan status kemusliman,namun juga sebagai pengingat dalam setiap pengamalan,bisakah aku mempertanggungjawab kan hijabku kelak,salah satu ujud dari kemuslimanku? Dan wanita

Philipina tersebut terang-terangan menjadikanku sasaran dakwah mereka.

Sedikit kaget,meski bukan hal baru yang kualami.Tapi sejak aku memakai hijab,ini pertama kali.Sesisip rasa jengkel menyelinap,namun beberapa langkah sejak kami berpisah aku merasa salut dengan keberaniannya. Dan Subhanallah, dia bahkan mengajakku berbicara,bukankah itu kesempatan emas untuk menunjukkan keagungan Islam?Ragu meluap,mampukah aku?dengan pemahaman yang masih belepotan dan Bahasa Inggris yang pas-pas an.

Program kristenisasi nampaknya tak hanya marak di Indonesia yang mayoritas Muslim,namun mendunia termasuk Hong Kong yang bermayoritas Budha dan Tao.Para anggota seminari internasional baik bule,Chinese, Philipine, bahkan orang Indonesia sendiri.Terlihat berseliweran di keramaian,berpenamp ilan necis,berbekal brosur,majalah bahkan kitab suci mereka.Nenek di tempatku bekerja pun pernah menjadi sasaran.Berpapasan di jalan dan ditanya.

‘Apa kepercayaanmu?’ Nenek yang penganut Budha pe de menjawab.

‘Aku percaya diri sendiri’.He he ada ada saja.

Aku sendiri bermental krupuk,gampang menyerah dengan keadaan.Pernah kudapatkan brosur dalam mendukung saudara di Palestina yang memuat daftar merk dagang kroni Yahudi yang diblokir.Bila ada kesempatan aku berusaha membaginya pada teman-teman, terkadang aku sisipi artikel yang mengupas tentang kekejaman Israel.Ada beberapa respons bagus,namun pernah suatu kali salah satu teman mengucap dengan lantang.

‘Alah,semua produk yang kita pakai memang punya Yahudi kok,mau gimana lagi’,kemudian brosur itu bernasib sama dengan kertas tak berguna di tong sampah.Ada rasa nyeri yang menyusup,namun ingin menghindari konflik dengan sesama teman yang aku pertimbangkan. Bila saja dia orang yang tak ku kenal,mungkin sikapku akan lain.Sejak kejadian itu,terbersit rasa enggan untuk membagi-bagikan brosur lagi.Ada perasaan was-was dengan reaksi yang akan aku terima.Astaghfirull ah,melihat para seminari itu aku nampak seperti pecundang.

Membayangkan bagaimana Rasul juga para Tabi’in Tab’iahum dalam membabat rimba kemungkaran mengubah ma’ruf.Menjadi musafir hanya demi menegakkan agama Allah dari satu tempat ke daerah lain dengan kultur yang beragam.Mencari cara agar bisa diterima di tempat dimana mereka singgah,sebuah nilai plus yang butuh metode tersendiri.Bisa dijadikan cermin dalam memantau semangat kita.

Berdakwah,bukankah wajib bagi tiap muslim?Tak hanya berlaku bagi mereka yang biasa naik ke mimbar,namun tanggungjawab pribadi untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.Persiapan memang perlu.Hal itu bisa memotivasi kita untuk terus belajar dalam mengeruk ilmu yang diimbangi dengan pengamalan sejauh pengetahuan itu berjalan.

Amalkanlah meski satu ayat’(Al-Hadist)

Bila ditinjau lebih dalam, perilaku keseharian bisa menjadi sarana dakwah tanpa kita menyadari.Mengamalk an apa yang kita terima semaksimal mungkin..Terus berproses untuk menjadi muslim sejati.Laiknya tiang Islam berdiri kokoh gemilang menyinari bumi Allah dimana kemaksiatan selalu berusaha mengusamkannya. Sehingga non muslim akan melihat keagungan Islam,kemuliaan Rosul Sang Penyampai dan kaum yang memiliki akhlak terpuji.Dengan keajaiban Allah bisa saja hatinya akan tergerak.

Dakwah juga salah satu ujud kasih sayang terhadap sesama untuk menghindarkan mereka dari siksa api neraka.Takdir memang telah tertulis,namun Allah Maha Mendengar dan Pengabul bagi para hambanya yang berusaha mencari kebenaran.Mungkin saja,cahaya Islam bisa mereka nikmati melalui tangan kita.

Berfastabikul khoirot dalam meraih rido akherat,bila langkah kita surut maka kesempatan emas itu akan terenggut.Berdakwah lah dengan kemampuanmu wahai saudaraku.Bisa saja sapaan kecilmu menjadi jalan yang menuntun menuju terang.Tugas dakwah bukan semata milik para ulama,namun kita semua hamba Allah yang telah mengecap ilmuNya dan wajib menyebarkannya.

Berusahalah mencari yang benar,jadilah saling akrab,dan sampaikanlah kabar gembira(Al Hadist)

Wallahualam Bishawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

c

artikel terbaru