Laman

c

Kamis, 27 November 2008

Kritik terhadap penelitian: toko buku di kompleks taman pintar sebagai bagian dari sebuah paket obyek rekreasi.

penelitian di atas di presentasikan oleh Ana Nadhya Abrar (ANA) dalam seminar nasional sistem informasi sebagai penggerak pembangunan di daerah pada 27 nopember 2008. ANA dalam tulisannya menyebutkan bahwa penelitian ini bertujuan:

  1. menilai kelayakan toko – toko buku (TB) di kompleks taman pintar menjadi bagian dari sebuah paket obyek rekreasi (OR) bersama – sama dengan museum benteng vredenburg dan taman pintar (TP).
  2. memberikan masukan kepada pemerintah kota yogyakarta dalam rangka membuat kebijakan tentang wisata buku sebagai salah satu variasi obyek wisata di yogyakarta,
  3. mengetahui sikap wisatawan domestik (wisdom) tentang kesiapan vredenburg, TP, dan TB sebagai satu paket OR. Dari hal tersebut ANA merumuskan pertanyaan; 1. bisakah vredenburg, TP, dan TB sebagai sebuah paket OR? & 2. bagaimana kelayakan bersama – sama dengan vredenburg dan TP?

Hasil dari penelitian tersebut adalah:

1. 89,99% responden setuju untuk menjadikan vredenburg, TP, dan TB sebagai sebuah paket obyek rekreasi.

2. 88,33% responden menghendaki jalan khusus yang menghubungkan vredenburg, TP, dan TB.

3. 75% responden menyatakan bahwa koleksi buku di TB cocok untuk mereka.

4. 85,01% responden menghendaki adanya peta tentang spesifikasi atau kelebihan setiap toko buku di kompleks TP.


ANA mempresentasikannya dalam suatu seminar, tentunya ANA memang berharap mendapat kritik dari peserta. Dan ANA juga berkata bahwa penelitian ini merupakan penelitian kebijakan yang bersifat aplikatif dan hal ini di iyakan oleh salah satu ibu pejabat di pemkot bahwa penelitian ini akan di terapkan dalam suatu kebijakan yang menjadikan TB sebagai suatu ODTW dalam suatu paket bersama – sama dengan TP. Penulis memakai istilah Obyek dan daya tarik wisata (ODTW) bukanya obyek rekreasi (OR) seperti yang di kemukakan ANA, karena istilah ODTW sudah di kenal umum sesuai dengan undang – undang kepariwisataan sehingga tidak membingungkan pembaca.


Dalam penelitian ANA, para pembaca juga bisa menilai apakah hasil dari penelitian tersebut menjawab rumusan pertanyaan. Pertanyaan 1 & 2 di jawab dengan hasil penelitian 1, namun hasil penelitian 2 tentang jalan ke TB, 3 tentang kecocokan buku, dan 4 tentang peta itu sebenarnya menjawab rumusan pertanyaan yang mana, masih membingungkan


Penulis tertarik untuk memberikan kritik karena kebijakan membuat suatu obyek menjadi ODTW bukan berdasar pada setuju atau tidaknya wisatawan nusantara (wisnu) yang berkunjung di vredenburg, TP, dan TB untuk menjadikan TB sebagai ODTW sebagai hasil penelitian yang sangat sederhana – seperti yang di katakan ANA- Suatu obyek dapat menjadi ODTW apabila memenuhi berbagai persyaratan dan standar – standar atribut – atribut product wisata yang harus ada dalam suatu ODTW yaitu aksesibilitas, amenitas, atraksi, dan masyarakat lokal. dan ODTW tersebut akan laku bila di kembangkan sesuai selera wisatawan, bukankah mereka yang akan mengunjunginya kelak, jadi harus market oriented.


Jadi usul penulis, penelitian pertama adalah melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap TP. Usia TP masih relatif muda dalam istilah yang di pergunakan dalam product life cycle, maka TP adalah dalam masa perkenalan, pembangunan fisik seluruh kompleks saja belum sempurna. Dan apabila ide menjadikan TB sebagai ODTW maka TB adalah sebagai supporting obyek dari TP sebagai main obyek. Sebelum ide tersebut menjadi kebijakan, mari kita liat main obyeknya dulu yaitu TP. Apakah TP sudah masuk dalam tahap maturity dalam tahapan product life cycle sehingga butuh supporting obyek untuk menciptakan daya tarik baru atau bahkan karena TP begitu penuh sesak melebihi carryng capacity sehingga perlu obyek baru yaitu TB untuk membagi kepadatan pengunjung.


Sehingga pertanyaan yang bisa di rumuskan dalam penelitian ini adalah

1. dalam posisi dimana TP dalam suatu product life cycle.

2. besaran caryng capacity TP sehingga mampu menampung jumlah wisatawan

3. bagaimana pemenuhan TP terhadap atribut – atribut ODTW

4. bagaimana sikap dan perilaku wisatawan mengenai tingkat kepuasan terhadap atribut produk wisata di TP

5. Analisa mengenai karakteristik wisatawan berdasar faktor demografis untuk mengenali produk wisata yang sesuai.


Apabila dalam penelitian terhadap TP ini menghasilkan keputusan bahwa posisi TP dalam produt life cycle adalah perkenalan / growth maka belum di butuhkan suatu ODTW baru untuk mempertahankan growth akan lebih bijak apabila manajemen mengembangkan atribut – atribut produk wisata yang belum ada dan membenahi obyek yang telah ada sesuai penilaian sikap wisatawan terhadap atribut – atribut produk wisata di TP yang jelek, karena investasi dalam suatu ODTW membutuhkan dana yang besar dan BEP adalah bersifat jangka panjang serta keberhasilan tidak bisa di ketahui seketika namun apabila posisi TP dalam product life cycle adalah maturity / decline dan carryng capacity TP tidak lagi sanggup menerima wisatawan yang begitu besar maka pembangunan obyek baru sebagai daya tarik begitu penting untuk mempertahakan pertumbuhan dan tidak lupa membenahi obyek yang telah ada sesuai penilaian sikap wisatawan terhadap atribut – atribut produk wisata di TP yang jelek.


Sedangkan analisa karakteristik wisatawan bisa menghasilkan berbagai karakteristik wisatawan antara lain

1. wisatawan pelajar yang datang berombongan pengaruh sekolah begitu penting dalam penentuan ODTW yang di tuju dengan waktu kunjungan 30-60 menit dan apresiasi terhadap obyek wisata tidak begitu fokus lebih menyukai sighseeing.

2. wisatawan yang datang mandiri baik perorangan maupun dalam kelompok kecil datang ke ODTW mempunyai waktu luang cukup luas untuk mencari nilai tambah dan apresiasi terhadap obyek. Hal ini nantinya akan berpengaruh terhadap jenis obyek apa yang di kembangkan dalam suatu ODTW.


Apabila karakteristik tipe 1 yang di jumpai di TP maka wahana permainan, pameran umum, seni pertunjukan akan begitu pas dengan selera wisatawan tipe tersebut, Namun apabila karakteristik tipe 2 yang di jumpai di TP maka workshop, seminar, pameran minat khusus seperti wisata di Toko Buku bisa di lirik untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. Jadi penentuan jenis pengembangan ODTW baru sebagai supporting obyek dari TP harus mempertimbangkan kondisi ODTW TP, tingkat kepuasan wisatawan di TP, dan karakteristik wisatawan di TP.


Selanjutnya apabila TP memang butuh supporting obyek dan TB sesuai dengan tipe karakteristi wisatawan yang berkunjung di TP maka baru di lakukan study kelayakan TB sebagai ODTW yang menganalisa kondisi eksisting dan kemungkinan pemenuhan atribut – atribut produk wisata di TB.


Tulisan ini merupakan saran agar pengambilan kebijakan mendasarkan pada penelitian yang lebih sesuai. Mengingat investasi untuk pengembangan ODTW membutuhkan uang rakyat yang relatif besar dan BEP nya relatif panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

c

artikel terbaru